Masjid Al Alam Marunda
Masjid Al Alam Marunda
Masjid Al-Alam Marunda


Nama
Masjid Al-Alam Marunda
Nama Dahulu
Masjid Maruda
Tahun Pembangunan
Abad 17
Alamat
Jalan Pasar Ikan
Kelurahan : Marunda
Kecamatan : Cilincing
Kota : Jakarta Utara
Kode Pos : 14150
Batas-batas
Utara : Perkampungan, Laut Jawa
Timur : Danau / kolam / tambak
Selatan : Pegudangan
Barat : Perkampungan, pelabuhan
Arsitek/ Pembangun
Belum Diketahui
Koordinat/UTM
6005’37,96” S 106057’33,62” T 48 M 716843.11 E 9326024.26 S
Status Kepemilikan
tidak ada
Fungsi Sekarang
Rumah Ibadah
Pengelola
Yayasan Masjid AL-Alam Marunda
Sejarah
Sejarah Kawasan
Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan ke utara, yang membelah kawasan tersebut. Nama Cilincing berasal dari kata Ci Calincing. Kata Ci berarti sungai dalam Bahasa Sunda, dan Calincing adalah nama sejenis pohon belimbing wuluh (averhrhoa Carambola L.) yang banyak tumbuh di tepian sungai. Dahulu di daerah ini, ada seorang tuan tanah bernama Justinus van der Vinck, pengusaha Belanda yang kaya. Pada tahun 1733, Ia membeli tanah luas di seputaran Weltevreden dan membangun pasar yang dinamakan Vink Passer. Pasar inilah yang kemudian dikenal sebagai Pasar Senen. Di daerah Cilincing, Vinck memiliki rumah besar yang dinamakan Landhuis Cilincing. Rumah ini dibangun pada tahun 1740 dan digunakan sebagai rumah kediaman pribadi Vinck. Sekarang rumah in dikenal dengan nama Rumah Veteran karena dihuni oleh beberapa pensiunan anggota kepolisian. Rumah Veteran memiliki gaya arsitektur landhuis Indis yang khas. Ia berupa rumah induk dua lantai bergaya Indis dengan halaman dalam yang dikelilingi rapat oleh rumah-rumah sampingnya. Sejarah mencatat bahwa dekat rumah ini Jenderal Inggris Sir S. Auchmuty mendarat dengan sepuluh ribu tentaranya pada 4 Agustus 1811 dan kemudian menyerang dan mengalahkan Belanda di Meester.
Di sebelah timur Cilincing ada sebuah daerah bernama Marunda. Menurut Zaennuddin HM, kata Marunda berasal dari kata merendah, dari sifat rendah hati penduduk yang tinggal di daerah ini dahulu. Mereka menjauhi sikap sombong dan takabur yang dilarang dalam ajaran Islam. Ada pula yang mengatakan karena topografi tanah di daerah tersebut berundak-undak. Warga setempat kemudian menyebut daerah ini merundak. Versi lain mengatakan bahwa Marunda berasal dari nama pohon manga pari (mangifera laurina). Versi terakhir mengatakan bahwa konon ada perampok bernama Ronda yang membunuh seorang pedagang Tionghoa kaya dan karena itu Ronda diburu oleh Tuan Schot (Tuan Kepala Daerah) yang merangkap sebagai polisi. Ronda kemudian tertangkap dan dipenjara di Glodok. Tetapi cerita ini bukanlah sejarah karena nama Marunda sudah ada sejak abad ke-17 dan jauh lebih tua dari cerita si Ronda.
Sekitar abad ke-17, ada seorang kapten Ambon bernama Tete Joncker Jouwa de Manipa yang berasal dari daerah Manipa. Ia adalah seorang terkemuka di daerah Marunda hingga disebut sebagai “Penguasa Marunda”. Kapten Joncker pernah mengabdi kepada VOC dan ia dihadiahi sebuah tanah di tepi Pantai Mrunda atas pengabdiannya. Ia kemudian tinggal di daerah ini bersama dengan orang-orang Ambon bekas bawahannya selama beberapa tahun. Tanah ini kemudian disebut sebagai Panjonkeran. Pada tahun 1884 Joncker dituduh secara palsu, bahwa ia merencanakan serangan atas kota Batavia kepada VOC. Rumor ini disebarkan oleh Isaac de St. martin, seorang keturunan Perancis yang menjadi musuh pribadi Joncker. de St. Martin beranggap Joncker tidak berhak memiliki jabatan tingga karena ia tetap seorang inlander (pribumi). Joncker mati tertembak dalam sebuah penyerangan VOC di Panjonkeran dengan 124 prajurit Ambon pengikutnya. Mayat Jonker kemudian dipenggal dan dipamerkan di kawasan Kota (Nieupoort). Setelah puas, barulah jasadnya dibawa kembali ke Marunda dan dimakamkan di Panjenkoran. Makam Jonker masih dikunjungi orang dan terletak tidak jauh dari rumah panggung Si Pitung.
Pada akhir abad ke-19, daerah Marunda terkenal akan sosok Si Pitung, seorang perampok yang menjadi pahlawan warga sekitar. Menurut cerita, Si Pitung merampoki tuan-tuan tanah dan berkelahi dengan ceteng-centeng mereka yang menindas rakyat kecil. Karena aksinya, Si Pitung menjadi buronan Belanda dan kemudian dibunuh. Hingga saat ini makamnya tidak diketahui karena menurut cerita, mayatnya dimakamkan dengan tubuh dan kepala terpisah. Untuk mengenang kisah Si Pitung, dibangunlah sebuah rumah panggung dari kayu seperti rumah yang dulu dihuni Si Pitung di daerah Marunda.
Sejarah bangunan
Dibangun oleh pasukan Mataram ketika menyerbu Batavia (1628-1629) dan menjadikan Marunda sebagai Pangkalan Militernya. Masjid ini diperbaiki seperti bentuknya sekarang dengan bahan sederhana. Konstruksi tiang sokoguru nerupakan hasil pengembangan yang dibuat sekitar abad ke-18.
Sejarah peristiwa
Sejarah peristiwa belum diketahui.
Riwayat Pelestarian
Pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin dengan penggantian dinding bata setinggi 1 meter, namun tetap mempertahankan keaslian bagian atasnya yang terbuat dari dinding bambu. Sedangkan di sisi Selatan dan Barat dibuat pelataran parkir.
Pada tahun 1989 bangunan masjid diperluas dengan menambah serambi depan dan serambi utara. Selain itu juga dibangun tempat wudhu dan toilet pada sisi selatan.
Status penetapan
Tingkat Provinsi DKI Jakarta : SK Gub no.475 tahun 1993 (JU12).
Uraian Fisik Objek :
Gaya / Langgam
Bangunan memiliki langgam arsitektur Jawa.
Tapak (blockplan)
Masjid berada di area yang dikelilingi tambak dan kompleks gudang, Terdiri dari 2 massa bangunan, asli dan bangunan tambahan. Terdapat sumur asli yang sekarang dinaungi atap.
Wujud bangunan
Bangunan masjid memiliki serambi depan yang dibangun dari setengah tembok dan setengahnya berupa jalusi kayu profilan.


Uraian interior dan elemen arsitektur yang khas
Dinding
Dinding serambi merupakan dinding setengah tembok dan setengah kayu.
Pintu dan Jendela
Kusen pintu dan jendela diduga masih asli.
Struktur/konstruksi bangunan
Struktur atap berupa perisai susun bersirip dengan kuda-kuda kayu. Atap serambi berupa atap pelana.
Struktur dinding berupa dinding struktur bata.
Struktur pondasi tidak diketahui.
Kelangkaan dan signifikansi arsitektural
Merupakan fasilitas kota yang menjadi penanda perkembangan kawasan Marunda yang dapat diidentifikasi melalui bangunan Masjid Al-Alam Marunda.
Ukuran
Luas situs: Belum dilakukan pengukuran.
Dimensi bangunan (panjang x lebar x tinggi): Belum dilakukan pengukuran.
Kondisi Saat ini
Kondisi Makro Lingkungan (saat ini)
Kawasan Marunda merupakan kawasan industri dan perikanan yang diselingi perkampungan-perkampungan. Akses jalan masih kecil meskipun sudah di beton. Kalaupun lebar, banyak dilalui truk dan alat-alat berat.
Kondisi Mikro Lingkungan (saat ini)
Bangunan masjid berada di lingkungan perkampungan kecil dan dikelilingi tambak.
Kondisi keterancaman
Bangunan dalam kondisi aman karena saat ini digunakan untuk fungsi bangunan ibadah dan memiliki ketetapan sebagai cagar budaya.
Faktor ancaman luar yang kemungkinan terjadi berasal dari ancaman alam dan manusia. Faktor alam disebabkan karena pelapukan, sedangkan faktor manusia disebabkan karena vandalisme dan kondisi lalu lintas di depan kompleks.
Faktor ancaman dari dalam salah satunya kurangnya kemampuan merawat bangunan cagar budaya baik akibat tidak tanggapnya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil / sedang maupun kebutuhan akan ruang dan fasilitas ibadah untuk umat.
Kondisi keterawatan secara umum
Secara umum bangunan dalam kondisi baik.
Mulai tampak kerusakan minor di beberapa tempat pada bangunan lama yang membutuhkan perhatian.
Kerusakan
Kerusakan akibat pembongkaran bangunan tambah dengan beko mengakibatkan bagian asli ikut terbongkar terutama struktur atap dan kolom asli. Pembongkaran dengan beko dilakukan hingga bangunan di sayap selatan rata tanah.
Perubahan bentuk
Tidak ada perubahan bentuk yang signifikan pada masa kini.


Lokasi
Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440