Masjid Luar Batang

Westzijdsche Pakhuizen / Kompleks Museum Bahari

Kompleks Masjid Luar Batang

Nama

Kompleks Masjid Luar Batang

Nama Dahulu

Musholla / Langgar An-Nur

Tahun Pembangunan

29 April 1739

Alamat

Jl. Luar Batang V No. 1

  • Kelurahan : Penjaringan

  • Kecamatan : Penjaringan

  • Kota : Jakarta Utara

  • Kode Pos : 14440

Batas-batas
  • Utara : Perumahan

  • Timur : Toko

  • Selatan : Gang dan perumahan

  • Barat : Gang dan perumhan

Arsitek/ Pembangun

Syeh Sayid Husein bin Abu Bakar Alydrus

Koordinat/UTM

6°07'25.90"S 106°48'23.05"E 48 M 699900.57 E 9322767.28 S

Status Kepemilikan

Tanah Wakaf

Fungsi Sekarang

Rumah Ibadah

Pengelola

Yayasan Masjid Jami’ Keramat Luar Batang

(Pengelolaan makam dipegang oleh kerabat Al-Habib Husein, sedangkan hak pengelolaan lahan masjid dipegang oleh penduduk asli setempat. Hak pengelolaan lahan ini diputuskan melalui sidang pengadilan (Puspitasari, et al., 2011).

Sejarah

Sejarah Kawasan

Sejak abad ke-17 tak lama setelah Perusahaan Dagang Hindia Belanda (VOC) menguasai Batavia, Kampung Luar Batang menjadi tempat persinggahan sementara para tukang perahu yang ingin masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika itu penguasa VOC membuat peraturan yang tak mengizinkan perahu-perahu selain milik VOC masuk maupun keluar ke pelabuhan di malam hari.

Setiap perahu pribumi yang hendak masuk akan diperiksa dulu, termasuk harus menitipkan senjatanya pada pos pemeriksaan yang ditandai dengan sebatang kayu yang dipasang melintang sungai sebagai penghadang perahu. Pos ini terletak di mulut alur pelabuhan. Pribumi yang belum diperiksa biasanya mengantri di luar batang yang ditetapkan itu. Kadang-kadang mereka menunggu sampai pagi atau bahkan hingga berhari-hari kemudian sehingga membangun pondok-pondok sementara di kawasan tersebut. Lama-kelamaan kawasan permukiman ini dinamai Kampung Luar Batang–yakni permukiman yang berada di luar pos pemeriksaan. Kampung semakin ramai ketika pada sekitar 1660-an, VOC mendatangkan nelayan dari Jawa Timur ke kampung ini. Pemimpinnya, bernama Bagus Karta, dianugerahi gelar luitenant.

Kampung Luar Batang dulunya adalah rawa-rawa. Lama-kelamaan rawa-rawa itu tertimbun lumpur dari Kali Ciliwung. Kampung di sekitarnya semakin berkembang, termasuk Kampung Rawa Baru. Semakin lama kampung semakin penuh dengan banyaknya tenaga kerja yang datang untuk membangun Kastil Batavia. Pasar yang ada di sekitar situ pun dinamai Pasar Ikan. Fakta ini diperkuat catatan F. de Haan dalam Oud Batavia yang menyebut kampung Luar Batang oleh VOC dijadikan pemukiman yang menampung para nelayan dari Jawa Timur dan Cirebon yang disebut wetanger alias orang-orang dari Timur.

(http://www.betawikita.id/pages/NU%201.html diakses tanggal 6 September 2017).

Sejarah bangunan

Masjid Luar Batang pertama kali dibangun sendiri oleh Khatib Sayid Husein Bin Abu Bakar Bin Abdillah Al-laydrus atau Habib Husein atau Habib Luar Batang. Bentuknya mungil untuk ukuran masjid masa kini, sekitar 6x6 meter. Pada saat itu, lebih akrab disebut surau/langgar. Terbuat dari kayu dengan gaya bangunan khas Betawi dengan kubah berbentuk bawang.

Pada sebuah batu dalam Masjid Luar Batang ditulis, bahwa 'al Habib Husein bin Abubakar Bin Abdillah al-Alaydrus yang telah wafat pada hari kamis 27 Puasa 1169 atau 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. sebab, L.W.C, Van Berg dalam buku yang termasyur tentang orang Hadhramaut, menyebut, bahwa Habib Husein baru wafat 1798. Sedangkan Ronkel sudah menyebut batu peringatan tersebut dalam karangannya yang diterbitkan pada tahun 1916. Bataviasche Courant edisi 12 Mei 1827 menyebutkan, Habib Husein meninggal dalam rumah komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid.

Pada tahun 1916 telah dicatat diatas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20 Muharam 1152 H atau 29 April 1739. Qiblat masjid ini kurang tepat dan digeser sehingga lebih akurat oleh Muh. Arshad al-Banjari (w. 1812) sewaktu singgah dalam perjalanan pulang dari Hejaz ke Banjar pada tahun 1827. Masjid ini kurang berkiblat, sama seperti Masjid Kebon Sirih dan Cikini. Oleh karena itu, ada penulis (misalnya Abubakar Atjeh) yang beranggapan, bahwa semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman seseorang, yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada tahun 1736 ia meninggalkan Batavia dari sheng mu gang, artinya 'pelabuhan makam keramat', pelabuhan Sunda Kelapa sekarang. Bukankah Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756). Maknanya bahwa pada tahun 1736 (dua puluh tahun sebelum Habib Luar Batang Wafat) sudah terdapat suatu makam yang dianggap keramat di daerah pelabuhan Batavia, lalu Itu keramat siapa ?.

Koran Bataviasche Courant, tanggal 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini, bahwa Habib Husein meninggal pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah diantara Surabaya dan Batavia. Pada tahun 1812 makamnya dikijing dengan batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai tahun 1827. Pada waktu ini rupanya derma tidak lagi diterima oleh komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh (pengurus) masjid sehingga gedung bisa diperluas. Di lain pihak suatu masjid (!) bukan surau telah dicatat pada peta yang dibuat C.F.Reimer pada tahun 1788.

Dengan merangkumkan segala data yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa suatu makam yang dianggap keramat sudah terdapat di Luar Batang pada tahun 1736 Mushola atau masjid didirikan 1739, Habib Husein tinggal diadaerah itu dan meninggal tidak sebelum 1756 (mungkin baru pada tahun 1796 atau 1798), makam keramat Habib Huseinlah yang menarik banyak peziarah, sehingga Masjid Luar Batang menjadi Masjid terkenal di Batavia lama.

Sejarah peristiwa

  • Luar Batang merupakan julukan yang diberikan kepada Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus. Cerita turur menyebutkan bahwa ketika Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756) pada usia sekitar 30-40 tahun, Belanda melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanah Abang.

  • Ketika akan dimakamkan, pada saat digotong menggunakan "kurung batang" (keranda dari bambu) menuju ke Pemakaman di Tanah Abang, ketika tiba di pemakaman jenazahnya sudah tidak ada di dalam kurung batang, dan ketika para jemaah kembali ke kediaman Habib Husein mereka mendapati Jenazah beliau masih berada di kediamannya.

  • Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya para jama'ah kala itu bermufakat untuk memakamkan beliau di tempatnya sekarang ini dan Belanda lagi-lagi mengalah. Sejak itulah, tempat itu dinamakan musholah luar batang, yang kemudian dipugar menjadi Masjid Luar Batang.

Riwayat Pelestarian

  • Pembangunan Masjid Luar Batang terus dilakukan secara berkala untuk menambah kapasitas masjid, seluruh bangunan masjid mendapatkan renovasi total sehingga tidak banyak elemen bangunan lama yang tersisa, di antaranya 12 kolom/tiang yang ada di aula utama masjid. Kolom-kolom tersebut dulunya merupakan struktur penyangga atap masjid yang lama sebelum direnovasi dengan bentuk seperti sekarang.

    Prasasti peletakan batu pertama pemugaran pada 6 September 1991 tertanda Gubernur Wiyogo Atmodarminto.

    Prasasti kedua yang letaknya bersebelahan yaitu prasasti pemugaran tahap kedua tanggal 5 September 1997 tertanda Gubernur Surjadi Soedirja.

Status penetapan

  • Tingkat Provinsi DKI Jakarta : SK Gub no.475 tahun 1993 (JU1).

    Tingkat Nasional: SK Mendikbud No. 0128/M/1988.

Uraian Fisik Objek :

Gaya / Langgam

  • Arsitektur masjid itu bergaya campuran Arab-India-Cina. Pada awal 2000, Pemprov DKI menetapkan masjid itu sebagai bangunan cagar budaya. Bangunannya lalu direnovasi menjadi bergaya Turki-Jawa.

Tapak (blockplan)

  • Masjid memiliki 2 aula besar, aula dalam dan aula luar. Di samping aula luar, terdapat sebuah ruangan yang merupakan lokasi makam Habib Husein dan muridnya, Haji Abdul Kadir.

  • Terdiri atas dua bangunan (lama dan baru) yang dikelilingi tembok dengan pintu gerbang terletak di sisi timur. Di bagian depan terdapat pelataran, tempat wudhu, kentongan. Di sisi kiri terdapat ruangan pawestren. Sebelum masuk ruang utama terdapat serambi. Ruang utamanya berbentuk empat persegi yang didalamnya terdapat tiang, mihrab, dan mimbar. Di sisi kirinya terdapat sebuah ruangan tempat makan Habib Husein dan Abdul Kadir bin Adam yang dikeramatkan.

Wujud bangunan

  • Masjid memiliki atap perisai tumpang yang menyerupai sebuah cungkup seperti bangunan Hindu Jawa. Masjid ini mempunyai denah dasar segi empat bujur sangkar yang ditopang dengan soko-guru yang masih asli.

  • Masjid Luar Batang terdiri atas dua bangunan (lama dan baru) dan 3 bangunan baru serta 3 menara (1 merupakan menara asli) yang dikelilingi tembok dengan pintu gerbang yang masih asli terletak di sisi timur.

  • Di bagian depan terdapat pelataran. Sebelah kanan pelataran ada tempat wudhu. Sisi kanan pelataran terdapat sebuah kentongan, sisi kiri terdapat ruangan pawestren. Menara lama masjid yang masih asli terdapat di samping kiri masjid. Di sebelah utara terdapat Ruang Keputren.

  • Bentuk arsitekturnya khas mesjid tua di pulau Jawa sebelum abad ke-20, yaitu tidak mempunyai kubah setengah lingkaran dan menara dengan bulan-bintang di atasnya. Hanya ada atap lancip atau sebuah cungkup seperti bangunan Hindu Jawa.

Uraian interior dan elemen arsitektur yang khas

  • Dinding

    Dinding bata diplester, sebagian dilapisi marmer dan keramik sedangakn sebagian lain dicat putih.

  • Komponen Bangunan Asli

    Bangunan tua yang masih tertinggal antara lain tiang persegi empat berjumlah 12 buah sebagai tiang penyangga utama mesjid, gapura pintu gerbang dari pagar tembok yang melingkar mengelilingi mesjid, dan ukiran pada kusen pintu masuk serambi mesjid.

    Selain itu juga terdapat makam Al Habib yang terletak di sebelah barat, dalam satu ruangan dengan serambi mesjid. Makamnya tertutup rapat dengan cungkup yang ditutupi kain dan hanya dibuka pada bulan Maulid dan bulan haul (wafatnya). Terdapat satu makam lagi di sebelah timur milik seorang Cina yang masuk Islam bernama Nek Bok Seng dan menjadi pendamping setia Al Habib. Nisannya terbuat dari batu kali tanpa ukiran dan catatan tahunnya.

Struktur/konstruksi bangunan

  • Bangunan masjid menggunakan struktur beton pada bangunannya dan struktur kayu pada atapnya.

  • Atap berbentuk limas pada bangunan utama dan perisai pada bangunan pendukung. Struktur kayu atap diduga baru setelah mengalami renovasi besar sebanyak 3x.

  • Pondasi untuk bagian kolom-kolom lama di dalam aula utama belum diketahui, diperlukan ekskavasi

Kelangkaan dan signifikansi arsitektural

  • Merupakan fasilitas kota yang menjadi penanda perkembangan kawasan Kotatua yang dapat diidentifikasi melalui langgam arsitektur Indis dan Jawa pada bangunan Masjid Luar Batang.

  • Merupakan situs dari mesjid dan makam tokoh perintis penyebaran agama Islam di utara Batavia.

Ukuran

  • Luas tapak/lahan: ± 5780 m2

  • Luas bangunan: ± 3280 m2

  • Ukuran bangunan (panjang x lebar x tinggi): ±37x37m (pengukuran pada Peta Dasar Kotatua Jakarta, PDA 2017).

Kondisi Saat ini

Kondisi Makro Lingkungan (saat ini)

Kampung Luar Batang tempat masjid ini berada memiliki fungsi utama sebagai tempat hunian bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Pola huniannya sangat padat, kebanyakan rumah satu dengan yang lainnya saling menempel, dengan gang-gang kecil sebagai akses masuk ke dalam kelompok-kelompok huniannya.

Kondisi Mikro Lingkungan (saat ini)

Kompleks Masjid Luar Batang terdiri dari beberapa bangunan dan dua menara. Bangunan mesjid terletak di utara zona inti Kotatua, di perkampungan padat penduduk di seberang kawasan Pasar Ikan dan Pelabuhan Sunda Kelapa, tepatnya di Jl. Luar Batang V, sekitar 300 meter dari jalan utama. Jalan tersebut hanya dapat memuat 2 mobil yang harus berjalan pelan. Bus rombongan peziarah harus memutar agak menjauh lewat jalur belakang yang sepi dan becek terkena air pasang laut.

Kondisi keterancaman
  • Bangunan asli sudah tidak ada hanya menyisakan menara dan gerbang, kemungkinan faktor ancaman adalah kebutuhan ruang ibadah yang semakin besar sehingga menghilangkan sisa-sisa keaslian masjid.

  • Faktor ancaman luar yang kemungkinan terjadi berasal dari ancaman alam dan manusia. Faktor alam disebabkan karena banjir air pasang laut dan kelangkaan air bersih di kawasan tersebut, sedangkan faktor manusia disebabkan karena vandalisme dan kondisi lalu lintas di depan kompleks.

  • Faktor ancaman dari dalam salah satunya kurangnya kemampuan merawat bangunan Cagar Budaya baik akibat tidak tanggapnya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil / sedang maupun tata Mekanikal Elektrikal yang kurang ditata rapi dan aman.

Kondisi keterawatan secara umum
  • Kondisi keterawatan masjid sampai saat ini masih terawat dengan baik dikarenakan masih banyaknya pengunjung mendatangin masjid untuk melakukan ziarah ke makam Al-Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.

Kerusakan
  • Kerusakan pada bangunan masjid masih minor, hanya pada gerbang lama yang cat nya mulai mengelupas.

Perubahan bentuk
  • Bekas-bekas masa lampau sudah hampir tidak terlihat lagi. Seluruh bangunan sudah dirombak total pada tahun 1992. Kubah bawang diganti menjadi kubah joglo atau kubah limas tadisional Indonesia. Menara masjid dipancang tinggi-tinggi, menyembul ditengah pemukiman padat tersebut. 12 tiang utama dari kayu dibongkar dan diganti tiang beton bergaya Romawi. Sementara lantai kayu dan ubin diganti dengan keramik dan batu granit.

  • Perbedaan yang nampak dari Menara Syahbandar dan Bangunan C terletak hanya pada bagian atap. Kedua bangunan tersebut sebetulnya memiliki tiang yang terpasang di atapnya. Kemungkinan tiang-tiang tersebut digunakan sebagai antena karena berdasarkan sumber sejarah, bangunan yang berada di Kompleks Menara Syahbandar sempat dijadikan Pos Meteorologi pada tahun 1800-an. Saat ini, tiang-tiang tersebut sudah tidak terpasang di atap Menara Syahbandar dan Bangunan C.

  • Selain plafon kayu jati yang masih asli, penanda yang menunjukan masjid tersebut terbilang tua adalah prasasti di makam Husein bin Ali Idrus. Di situ tertulis makam bertanggal 24 Juni 1756. Di dalam ruangan 6x7 meter tersebut menjadi pusara terakhir Husein bin Alaydrus.

Lokasi

Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440