Menara Syahbandar

Kompleks Menara Syahbandar

Kompleks Menara Syahbandar

Nama

Kompleks Menara Syahbandar

Nama Dahulu

De Uitkijkpost

Tahun Pembangunan

1839

Alamat

Jalan Pasar Ikan No. 1

  • Kelurahan : Penjaringan

  • Kecamatan : Penjaringan

  • Kota : Jakarta Utara

  • Kode Pos : 14440

Batas-batas
  • Utara : Kanal Pelelangan Ikan.

  • Timur : Kanal Pakin, jembatan

  • Selatan : Jl Pakin, Kali krukut

  • Barat : Jl. Pasar Ikan

Arsitek/ Pembangun

Belum Diketahui

Koordinat/UTM

S 06°07'38,8" E 106°48'32,8" 48 M 700199 E 9322369 S

Status Kepemilikan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Fungsi Sekarang

Museum

Pengelola

U.P. Museum Kebaharian Jakarta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Sejarah

Sejarah Kawasan

Kawasan ini dulu dikenal dengan nama Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran (abad ke 15-16 M) dan Kerajaan Islam Banten (16-17 M). Kota ini kemudian dikuasai oleh VOC yang dipimpin oleh J P. Coen pada awal abad 17 dan diganti namanya menjadi Batavia. Batavia kemudian menjadi pusat kegiatan jaringan perniagaan-perdagangan maritim internasional karena posisinya yang strategis. Komoditi utama Batavia adalah rempah-rempah dan hasil bumi lainnnya. Berbagai bangunan dan struktur penunjang perniagaan dibangun di kawasan ini, seperti gudang penyimpanan, kantor pemerintah dan perniagaan, pelabuhan, kanal, jembatan, dan tembok keliling yang di lengkapi bastion.

Sejarah bangunan

Pada tahun 1839 didirikan menara baru sebagai pengganti menara yang lama. Kedua menara ini kemudian direnovasi bersamaan dengan pemugaran bangunan gudang-gudang yang dijadikan Museum Bahari. Setelah pembangunan pelabuhan Tanjung Priok selesai pada 1886, peranan Menara ini berkurang, meskipun tetap dijadikan Menara Pengawas dan Kantor Syahbandar bagi kegiatan Pelabuhan Pasar Ikan (1926-1967). Tahun 1967 dengan diresmikannya Pelabuhan Sunda Kelapa, maka praktis Menara Pengawas tidak difungsikan bagi kegiatan pelabuhan Pada masa pendudukan Jepang, Kompleks ini dimanfaatkan untuk gudang penyimpanan logistik. Tahun 1950-an pernah menjadi Pos Kepolisian Penjaringan hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1977 dijadikan bagian dari Museum Bahari. Menara Syahbandar juga berfungsi sebagai menara pengintai serta stasiun meteorologi. Menara tersebut dikelilingi oleh tembok tebal yang merupakan sebuah bastion yang menyatu pada tembok pertahanan Kota Batavia tempo dulu. Menara ini pernah menjadi bangunan tertinggi di Batavia pada abad ke-18. Lingkungan di sekitar bangunan ini dahulu disebut Galangan Kapal milik VOC yang mulai berfungsi sejak tahun 1632. Tahun 1977, Menara Syahbandar dijadikan sebagai titik 0 (Kilometer nol) Kota Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin, namun pada tahun 80-an patokan Kilometer 0 Jakarta dipindah ke Monumen Nasional (Permana dkk, 2011: 1 – 5).

Menara Syahbandar dibangun pada tahun 1839 untuk mengganti tiang bendera lama pada galangan kapal, yang terletak persis di sisi seberang kali di sebelah selatan Jalan Pakin. Dari tiang dan kemudian dari menara itu kapal-kapal yang ingin berlabuh diamati dan diberi tanda-tanda. Kemudian Menara tersebut digunakan sebagai pos meteorologi dan diperlengkapi dengan bermacam-macam peralatan (Heuken, 1997:34-35). Menara ini berdiri di atas kubu pertahanan. Kubu tersebut merupakan bagian dari tembok kota Batavia yang dibangun dari batu karang dalam tahun 1645 dan disebut Cullemborg (Heuken, 1997:34-35). Jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1860 sampai dengan tahun 1950, bangunan-bangunan yang berada di Kompleks Menara Syahbandar tidak mengalami banyak perubahan. Berikut merupakan analisis perbandingan kondisi Kompleks Menara Syahbandar dari tahun 1860 sampai saat ini berdasarkan foto yang didapat dari http://media-kitlv.nl/ dan foto hasil survei.

Sejarah peristiwa

  • Sejarah peristiwa belum diketahui.

Riwayat Pelestarian

  • Riwayat pelestarian belum diketahui.

Status penetapan

  • Tingkat Provinsi DKI Jakarta : SK Gub no.475 tahun 1993 (JU3).

  • Tingkat Nasional : PM.13/PW.007/MKP/05.

Uraian Fisik Objek :

Gaya / Langgam

  • Arsitektur Eropa yang tertutup nampak pada bangunan Menara Syahbandar, sedangkan arsitektur Indis nampak pada tiga bangunan lainnya di sekitar menara. Arsitektur Indis dicirikan dengan penggunaan kolom-kolom Tuskan dan atap teritisan yang lebar.

Tapak (blockplan)

  • Tapak berbentuk trapesium dan terletak di sisi tenggara Komplek Museum Bahari. Terdapat 4 massa bangunan di dalamnya. Bentuk tapak mengikuti alur kali dan kanal.

  • Pada sisi kanal masih dapat ditemukan beberapa sisa bukaan jendela maupun pintu bastion. Diduga saat ini sudah tidak dapat diakses lagi (sudah ditutup).

Wujud bangunan

  • Bangunan menara terdiri dari tiga lantai setinggi 17.9 m.

    Denah bangunan menara berbentuk persegi. Bukaan berada di sisi timur dan utara bangunan.

  • Dinding bangunan berupa dinding pemikul (bearing wall) dari bata.Atap berbentuk limas pada bangunan menara dan pelana pada bangunan lainnya dengan penutup atap dari genting tanah liat.

  • Atap berbentuk limas pada bangunan menara dan pelana pada bangunan lainnya dengan penutup atap dari genting tanah liat.

  • Tampak muka menara dicat dengan warna putih. Tampak muka lantai dasar memiliki tiga buah pintu masuk. Pada dari tampak muka lantai 2 terdapat tiga buah jendela. Jendela-jendela dicat sewarna dengan pintu masuk pada lantai dasar. Lantai 3 bangunan memiliki jendela yang berfungsi untuk melihat lingkungan sekitar. Dinding lantai tiga terbuat dari susunan kayu dan dicat dengan warna merah.

  • Tampak samping memperlihatkan sisi barat bangunan, nampak bagian seperti pintu masuk menuju ruang bawah tanah. Sebelah kiri pintu masuk ruang bawah tanah terdapat jangkar kapal. Bagian dinding sisi barat bangunan terdapat ornamen berupa pelipit. Pada bagian atas lantai 2 terdapat logo Museum Bahari.

Uraian interior dan elemen arsitektur yang khas

  • Dinding

    Dinding menara terbuat dari bata dan bagian paling atas dari susunan papan kayu.

  • Pintu dan Jendela

    Kusen pintu dicat berwarna merah dan dalam kondisi terawat. Daun pintu dicat berwarna hijau tosca.

    Kusen jendela dicat dengan warna merah, sedangkan daun jendela dicat dengan warna hijau tosca

Struktur/konstruksi bangunan

  • Struktur atap berupa perisai memanjang dengan kuda-kuda kayu. Penutup atap berupa genting tanah liat. Atap memiliki tritisan selebar ± 30 cm.

  • Struktur bangunan utama berupa dinding pemikul (bearing wall) dari bata yang direkatkan dengan mortar kapur.

  • Pondasi diduga berupa pondasi cerucuk dari pasangan batu bata berdasarkan referensi bangunan yang dibangun pada periode yang sama.

Kelangkaan dan signifikansi arsitektural

  • Menara Syahbandar merupakan bangunan tertinggi pada abad ke 18-19 di Kota Batavia sebagai pemantau kapal yang keluar masuk Kota Batavia sebelum pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada tahun 1877.

Ukuran

  • Menara Syahbandar : 10,05 m x 5,51 m x 17,90 m; Luas Bangunan 55,4 m2

  • Bangunan A : 12,87 m x 8,58 m x 7,38 m; Luas Bangunan 110,4 m2

  • Bangunan B : 11,13 m x 7,19 m x 10,30 m; Luas Bangunan 80,0 m2

  • Bangunan C : 16,37 m x 4,63 m x 5,97 m; Luas Bangunan 75,8 m2

    (Sumber: Data Pengelola Museum Bahari dalam Oesman, dkk)

Kondisi Saat ini

Kondisi Makro Lingkungan (saat ini)

Kondisi lingkungan sekitar bangunan cukup baik namun demikian perlu mendapat perhatian, karena persis di sisi selatan Menara Syahbandar adalah jalan raya (Jalan Pakin) yang sangat padat dan dilewati oleh truk-truk berkapasitas besar (truk tronton) baik yang menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, Tanjung Priok maupun sebaliknya.

Kondisi Mikro Lingkungan (saat ini)

Lingkungan sekitar bangunan dilapisi perkerasan paving block. Kompleks ditanami beberapa pohon rendah agar tidak menghalangi bukaan di lantai observasi menara. Kompleks dilengkapi dengan utilitas yang baik, seperti penerang jalan, tiang listrik, pedestrian, dan drainase. Pedestrian setinggi 15 cm telah dilengkapi dengan kanstin selebar 20 cm.

Kondisi keterancaman
  • Bangunan dalam kondisi aman karena saat ini digunakan untuk fungsi museum nasional yang dimiliki Pemda DKI Jakarta.

  • Faktor ancaman luar yang kemungkinan terjadi berasal dari ancaman alam dan manusia. Faktor alam disebabkan karena pelapukan, sedangkan faktor manusia disebabkan karena vandalisme dan kondisi lalu lintas di depan kompleks.

  • Faktor ancaman dari dalam salah satunya kurangnya kemampuan merawat bangunan cagar budaya baik akibat tidak tanggapnya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil / sedang maupun tata Mekanikal Elektrikal yang kurang ditata rapi dan aman.

Kondisi keterawatan secara umum
  • Secara umum bangunan menara dalam kondisi baik dan terawat. Secara keseluruhan, kondisi tampak mukae bangunan masih terawat meski di bawah lambang museum (tampak muka depan) terdapat cat / pelesteran mengelupas.

  • Kompleks Menara Syahbandar yang terletak di sebelah timur Museum Bahari dalam kondisi terawat meski mulai ada tanda-tanda kerusakan minor.

  • Bagian alas depan Menara Syahbandar sudah diperkeras dengan susunan paving. Sebelum menuju pintu masuk bangunan, terdapat tangga yang berjumlah 5 undakan. Tangga tersebut sudah dilapisi oleh plesteran berwarna putih. Kondisi atap menara terbilang masih terawat dan tidak ditemukan kerusakan.

  • Terdapat 3 bangunan lainnya di kompleks Menara Syahbandar terdiri dari bangunan A, B, dan C. Kondisi seluruh bangunan masih terawat.

  • Bangunan A terletak di dekat gerbang masuk Kompleks Menara Syahbandar Bangunan ini berdenah persegi panjang. Pada bagian depan bangunan terdapat tempat untuk membeli tiket bagi pengunjung Kompleks Menara Syahbandar. Pada bagian tampak muka bangunan terdapat 5 buah pilar penyangga. Cat dinding bangunan berwarna putih dan masih dalam kondisi terawat. Sementara itu, kondisi 2 pintu pada bagian tampak muka bangunan masih terawat. Kusen pintu dicat dengan warna merah, sedangkan daun pintu dicat dengan warna hijau tosca. Pada bagian atas pintu terdapat ventilasi kayu. Kusen ventilasi berwarna merah dan daun ventilasi berwarna hijau tosca. Atap bangunan dalam kondisi terawat. Atap berbentuk atap pelana dan terdapat tritisan pada bagian depan. Kayu tritisan dicat dengan warna hijau tosca (lihat foto Bangunan A).

  • Bangunan B terletak di depan Menara Syahbandar. Bangunan ini berdenah persegi panjang. Lantai bangunan dibuat tinggi dan terdapat tangga di sebelah kanan bangunan. Cat dinding berwarna putih dan dalam kondisi terawat. Pada bagian depan terdapat 4 pilar yang menyangga tritisan. Pada bagian tampak muka bangunan terdapat pintu masuk dan jendela berkaca di sebelah kanan dan kiri pintu masuk. Kusen pintu dan jendela dicat dengan warna merah, sedangkan daun pintu dan jendela dicat dengan warna hijau toska. Atap bangunan masih dalam kondisi terawat. Atap bangunan berbentuk atap pelana. Kayu pada bagian tritisan dicat dengan warna hijau tosca.

  • Bangunan C terletak di sebelah kanan Menara Syahbandar. Bangunan ini berdenah persegi panjang dan terdiri dari 2 lantai. Cat dinding bangunan berwarna putih dan masih terawat. Pada dinding bangunan terdapat ornament berupa garis di bagian atas pintu masuk. Pintu masuk berada di sisi kanan bangunan. Sebelah kiri pintu terdapat 2 buah jendela. Kusen pintu dan jendela dicat dengan warna merah sedangkan daun pintu dan jendela dicat dengan warna hijau tosca. Pada lantai dua bangunan terdapat 3 buah jendela dan pada bagian atasnya diberi kanopi berwarna merah. Bagian dalam bangunan tidak dapat dimasuki karena sedang dalam proses pengecatan.

Kerusakan
  • Kerusakan minor pada tampak muka luar bangunan mulai tampak. Seperti cat mengelupas persis di bawah lambing museum bahari.

Perubahan bentuk
  • Dilihat dari foto tahun 1860-1865, bangunan yang berada di Kompleks ini adalah Menara Syahbandar dan Bangunan C. Kondisi denah bangunan baik Menara Syahbandar dan Bangunan C tidak terdapat perbedaan dengan kondisi bangunan pada saat awal didirikan.

  • Perbedaan yang nampak dari Menara Syahbandar dan Bangunan C terletak hanya pada bagian atap. Kedua bangunan tersebut sebetulnya memiliki tiang yang terpasang di atapnya. Kemungkinan tiang-tiang tersebut digunakan sebagai antena karena berdasarkan sumber sejarah, bangunan yang berada di Kompleks Menara Syahbandar sempat dijadikan Pos Meteorologi pada tahun 1800-an. Saat ini, tiang-tiang tersebut sudah tidak terpasang di atap Menara Syahbandar dan Bangunan C.

  • Pada bagian belakang Menara Syahbandar nampak 2 bangunan berdenah persegi panjang dengan bentuk atap pelana. Jika dilihat kondisi saat ini, bagian belakang Menara Syahbandar sudah menjadi Jalan Pakin.

  • Berdasarkan foto tahun 1935, nampak perubahan pada bagian atap bangunan C, yang sebelumnya beratap datar, pada tahun 1935 berubah menjadi atap pelana dan memiliki semacam dormer di bagian kanan atapnya. Perubahan lainnya berada pada dinding tampak muka Menara Syahbandar. Bagian dinding bagian atas jendela lantai 2 menara dicat senada dengan lantai 3 Menara Syahbandar.

  • Kondisi bangunan-bangunan Kompleks Menara Syahbandar mengalami beberapa perubahan. Pada bagian depan bangunan C terdapat penambahan bangunan yang kini merupakan bangunan B. Perubahan lainnya yaitu atap bangunan C yang kembali berbentuk datar setelah tahun 1935 mengalami perubahan. Pada sisi-sisi atap Bangunan C terdapat susunan kayu yang mengelilingi atap bangunan. Dinding tampak muka Menara Syahbandar yang sebelumnya pada bagian atas jendela lantai 2 dicat senada dengan dinding lantai 3, kini kembali dicat dengan warna putih.

Lokasi

Jl. Pakin No.2, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440