Museum Bahari
Westzijdsche Pakhuizen / Kompleks Museum Bahari
Kompleks Museum Bahari


Nama
Kompleks Museum Bahari
Nama Dahulu
Westzijdsche Pakhuizen (Gudang Barat)
Tahun Pembangunan
1652, 1718-1773
Alamat
Jalan Pasar Ikan No. 1
Kelurahan : Penjaringan
Kecamatan : Penjaringan
Kota : Jakarta Utara
Kode Pos : 14440
Batas-batas
Utara : Bastion Zeeburg, Kanal Utara
Timur : Jl. Pasar Ikan, Urugan Kanal Timur
Selatan : Jl Pakin
Barat : Gudang Kayu (Texmaco)
Arsitek/ Pembangun
Belum Diketahui
Koordinat/UTM
S 06°07'37,4" E 106°48'30,1" 48M 0700116 E 9322413 S
Status Kepemilikan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Fungsi Sekarang
Museum
Pengelola
U.P. Museum Kebaharian Jakarta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Sejarah
Sejarah Kawasan
Kawasan ini dulu dikenal dengan nama Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran (abad ke 15-16 M) dan Kerajaan Islam Banten (16-17 M). Kota ini kemudian dikuasai oleh VOC yang dipimpin oleh J P. Coen pada awal abad 17 dan diganti namanya menjadi Batavia. Batavia kemudian menjadi pusat kegiatan jaringan perniagaan-perdagangan maritim internasional karena posisinya yang strategis. Komoditi utama Batavia adalah rempah-rempah dan hasil bumi lainnnya. Berbagai bangunan dan struktur penunjang perniagaan dibangun di kawasan ini, seperti gudang penyimpanan, kantor pemerintah dan perniagaan, pelabuhan, kanal, jembatan, dan tembok keliling yang di lengkapi bastion.
Sejarah bangunan
Kompleks Bangunan Museum Bahari didirikan tahun 1652, tetapi diubah beberapa kali sampai tahun 1759. Angka tahun perbaikan, perluasan atau penambahan gudang dapat dilihat di atas beberapa pintu museum, misalnya tahun 1718, 1719, atau tahun 1771.
Westzidjsche Pakhuizen atau Gudang Tepi Barat menyimpan persediaan pala, lada, dan kopi. Di antara gudang dan Tembok Kota, VOC menyimpan persediaan tembaga dan timah. Logam berharga tersebut diamankan terhadap hujan oleh suatu serambi gantung.
Serambi gantung ini dimanfaatkan juga untuk patroli. Serambi ini dipasang pada lantai kedua gudang yang menghadap pelabuhan tetapi sudah lama dibongkar (Heuken, 2000:36-37).
Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya ketika perang dunia II meletus (1939-1945) bangunan ini menjadi tempat logistik peralatan militer tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia merdeka, difungsikan untuk gudang logistik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pos Telepon dan Telegram (PTT).
Sejak Kali Besar tidak dapat lagi dialirkan langsung ke Kanal dan Pelabuhan Pasar Ikan, air tanah naik sehingga dinding-dinding museum lembab. Hal tersebut menyebabkan dinding maupun tiang kayu yang kuat mulai lapuk dan rusak sejak tahun 1984 (Heuken, 2000:36).
Bangunan-bangunan Westzidjsche Pakhuizen direnovasi Pemda DKI Jakarta dan diresmikan menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977 oleh Ali Sadikin, yang pada waktu itu menjabat Gubernur DKI Jakarta (Data Presentasi Sidang TSP Konservasi Museum Bahari, 2016).
Berdasarkan foto tahun 1920 dan 2016, nampak tidak ada perubahan pada bentuk bangunan. Perubahan berupa penaikan lantai bangunan yang berdasarkan informan, lantai bangunan Museum Bahari naik sekitar 1,5 sampai 2 meter. Bentuk atap dan komponen bangunan lainnya hanya mengalami perubahan material dengan bentuk bangunan menyesuaikan dengan bentuk awalnya.
Bagian sisa Tembok Kota Batavia tidak mengalami perubahan bentuk. Sisa Tembok Kota ini hanya mengalami perawatan berupa pengecatan ulang sehingga masih terlihat terawat seperti yang nampak saat ini.
Sejarah peristiwa
Sejarah peristiwa belum diketahui.
Riwayat Pelestarian
Riwayat pelestarian belum diketahui.
Status penetapan
Tingkat Provinsi DKI Jakarta: SK Gub no.475 tahun 1993 (JU2).
Tingkat Nasional: SK Mendikbud no.0128/M/1988.


Uraian Fisik Objek :
Gaya / Langgam
Bangunan Museum Bahari memiliki langgam arsitektur Eropa yang tertutup. Bangunan tidak mengadaptasi arsitektur tropis, namun menggunakan ciri arsitektur Eropa, khususnya dari Belanda. Bukaan seperti jendela dan dormer berukuran kecil terdapat pada tampak depan. Bangunan memiliki atap pelana curam dengan sopi-sopi yang diberi bubungan persegi di puncak. Dinding bangunan relatif polos tanpa dekorasi.
Tapak (blockplan)
Tapak dikelilingi kanal utara dan timur, sehingga kondisi tanah diperkirakan memiliki kadar air tanah tinggi. Terdapat 3 massa bangunan di dalamnya. Orientasi tapak memanjang dari barat laut-tenggara dan melebar ke tenggara dan berbentuk persegi panjang.
Sisi timur tapak merupakan jalan lokal beraspal dua arah yang terhubung dengan jalan kolektor Jalan Pakin di sisi selatan. Sisi timur situs dibatasi oleh dinding Bastion Zeeburg yang masih utuh.
Sisi barat tapak diapit jalan lingkungan yang masih berupa tanah selebar ± 10 m. Jalan lingkungan di sisi barat digunakan sebagai parkir mobil pick-up, mini-truck, truk, dan gerobak dagangan, serta sebagai lokasi bangunan liar semi-permanen dari kayu.
Sisi utara tapak merupakan tanah kosong tidak terpakai dan berbatasan langsung dengan tepi air laut. Sisi selatan bangunan merupakan bangunan modern terbuat dari bata sederhana satu lantai yang digunakan sebagai toko.
Kontur tapak datar dan turun ± 1 m dari permukaan Jalan Pasar Ikan. Situs ditutupi dengan perkerasan dan paving. Halaman tengah situs juga ditutupi material serupa.
Wujud bangunan
Bangunan terdiri atas tiga lantai (dasar, tingkat, loteng) dan dibagi menjadi tiga blok massa.
Denah bangunan berbentuk persegi panjang yang memanjang dari barat laut ke tenggara. Blok A menghadap Jalan Pasar Ikan di timur merupakan akses masuk utama museum. Blok B terletak di selatan tapak, diantara blok A dan C dan dapat diakses dari kedua sisi barat dan timur tampak depan. Blok C menghadap jalan lingkungan di timur tetapi akses masuk di barat tampak depan, dari halaman tengah kompleks. Blok A dan C saling sejajar di sisi utaranya dan dihubungi jembatan penghubung di lantai dua.
Di atas pintu masuk museum terdapat teras yang dibuat menerus hingga ke dinding Bastion Zeeburg.
Dinding berupa dinding pemikul struktur bata dengan tebal ± 30 cm.
Atap berbentuk pelana dengan kemiringan curam tanpa teritisan lebar dan ditutupi genting tanah liat. Atap memiliki jendela dormer.
Tampak muka (timur) memperlihatkan pintu masuk bangunan dari Jalan Pasar Ikan. Ada dua pintu masuk bangunan di sisi selatan dan utara tampak depan. Dinding tampak depan polos dan dicat putih. Jendela bangunan berukuran sama dan tersebar secara simetris dan rata di sepanjang dinding lantai dasar dan tingkat. Di bagian bawah jendela ada angkur besi berbentuk Y terbalik yang menjadi ciri khas Gudang Barat dan Gudang Timur. Posisi jendela dormer diatap berada di kanan jendela. Puncak dinding memperlihat aangkur besi bentuk huruf Y terbalik yang terpotong menjadi bentuk huruf V.
Tampak samping (utara-selatan) memperlihatkan sopi-sopi bangunan yang polos dan dicat putih. Sopi-sopi bangunan memiliki wuwungan persegi di kedua ujung dan puncak. Di puncak sopi-sopi tampak selatan blok A, ada plakat lonjong dengan simbol perahu maritim dan nama “Museum Bahari”.
Tampak belakang (barat) berupa dinding polos yang serupa dengan dinding tampak depane tanpa pintu masuk. Ada pagar jeruji besi pembatas tapak antara tampak depan dan jalan lingkungan setinggi ± 2 m.




Uraian interior dan elemen arsitektur yang khas
Dinding
Memiliki angkur besi berbentuk huruf Y terbalik yang merupakan ciri Gudang Barat dan Gudang Timur.
Pintu dan Jendela
Berbentuk arch dengan kusen batu tebal berwarna hitam. Bukaan ini terletak di dinding tembok yang membatasi tampak timur bangunan.
Memiliki dua jenis jendela yaitu jendela dinding dan dormer. Jendela dinding berbentuk dua daun, terdiri atas tiga lapis dan memiliki kusen kayu. Lapisan terluar berupa papan kayu masif. Lapisan kedua adalah jeruji besi mati. Lapisan terakhir berupa jendela kaca. Jendela dormer memiliki bentuk serupa dengan jendela dinding, tetapi tidak memiliki lapisan jendela kaca.




Struktur/konstruksi bangunan
Struktur atap berupa kuda-kuda kayu dan penutup atap berupa genting tanah liat.
Struktur bangunan utama berupa dinding pemikul dari bata, serta balok dan kolom kayu.
Pondasi diduga berupa susunan batu bata yang diperkuat dengan cerucuk kayu.
Kelangkaan dan signifikansi arsitektural
Merupakan penanda perkembangan kawasan Kotatua yang dapat diidentifikasi melalui langgam arsitektur Indis Dutch Closed pada kompleks bangunan ini.
Kompleks ini pada awalnya digunakan sebagai tempat bongkar muat dan penyimpanan rempah-rempah oleh VOC
Ukuran
Luas tapak/lahan: 7441,2 m2
Luas bangunan: 251.002 m2
Ukuran bangunan:
Bangunan A: 153,6 m x 11,4 m x 14,0 m; Luas: 1751,04 m2
Bangunan B: 55,4 m x 15,7 m x 10,0 m; Luas: 758,98 m2
Bangunan C1: 46,20 m x 12,60 m x 13,7 m
Bangunan C2: 97,23 m x 15,40 m x 13,7 m
(Dokumen TSP, 2010: PT. Binamadya Persada)
Kondisi Saat ini
Kondisi Makro Lingkungan (saat ini)
Kondisi lingkungan sekitar bangunan Museum Bahari sedang dalam penataan (eks kampung aquarium, pasar hexagon). Jalan utama menuju museum masih sangat padat arus lalu lintasnya dan sering macet. Di sisi sebelah barat masih terdapat pemukiman penduduk yang cukup berdekatan dengan pagar museum dan perlu diperhatikan kerusakan akibat faktor manusia seperti vandalisme.
Kondisi Mikro Lingkungan (saat ini)
Secara umum, kondisi lingkungan sekitar kompleks museum kurang memadai. Tidak ada sarana dan prasara yang cukup menunjang keberhasilan museum, seperti kendaraan umum, penerangan jalan, dan lahan parkir. Jalan di sisi timur berupa perkerasan beton bertulang, sementara jalan di sisi barat berupa tanah berbatu. Di sepanjang tampak timur, dibuat pedestrian selebar ± 1.5 m dengan paving block kotak abu-abu dan heksagonal merah-putih.
Kondisi keterancaman
Bangunan dalam kondisi aman karena saat ini digunakan untuk museum yang dimiliki Pemda DKI Jakarta dan masuk ketetapan sebagai Cagar Budaya.
Tetapi akibat kebakaran Januari 2018 dan belum adanya penanganan perlindungan / pengamanan sementara membuat status keadaan bangunan menjadi terancam.
Faktor ancaman luar yang kemungkinan terjadi berasal dari ancaman vandalisme pada dinding tampak depan batas museum yang kurang mendapat perhatian, kemungkinan terjadinya banjir dan getaran-getaran pembangunan di dekat kompleks.
Faktor ancaman dari dalam salah satunya kurangnya kemampuan merawat bangunan cagar budaya baik akibat tidak tanggapnya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil / sedang maupun tata Mekanikal Elektrikal yang kurang ditata rapi dan aman.
Kondisi keterawatan secara umum
Secara umum kompleks dalam kondisi cukup terawat, tetapi kondisi setiap blok massa kurang terawat. Jalan depan Museum Bahari sudah diperkeras dengan beton dan posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan ketinggian peil museum. Bekas kebakaran pada Januari 2018 di blok A dan C belum ditangani atau diberi proteksi secukupnya (sangat terpapar cuaca).
Beberapa jendela setiap bangunan sudah mengalami kerusakan pada bagian kusen dan daun jendela. Kusen jendela yang terbuat dari kayu beberapa sudah keropos dan catnya mengelupas. Jendela pada lantai 2 dalam kondisi kurang terawat. Kerusakan parah pada jendela gedung A dan C akibat kebakaran.
Atap tampak depan Museum Bahari blok A, B, dan C berbentuk atap pelana dengan dormer di sisi kanan dan kiri atap. Penutup atap dalam kondisi cukup terawat kecuali kondisi dormer kurang terawat. Kerusakan dormer terletak pada kusen dan daun dormer. Gedung A dan C yang terbakar atap dan dormernya nya sudah hancur akibat kebakaran
Cat dinding tampak depan bangunan secara umum cukup terawat. Hanya ada setempat-setempat cat dinding bagian atas sudah berubah warna akibat rembesan bocoran air hujan. Cat dinding bagian bawah pada bangunan B, bangunan C, serta dinding bangunan A yang menghadap bangunan B sudah berubah warna akibat banjir dan terakhir kebakaran. Cat pada beberapa bagian dinding bangunan-bangunan mengalami pengelupasan terutama di sekitar besi angkur yang sudah keropos.
Lantai blok A, B, dan C memiliki ketinggian 1,5 meter sampai 2 meter di atas permukaan tanah asli.
Setelah memasuki pintu masuk bangunan A, terdapat tempat pembelian tiket Museum Bahari. Kondisi ruangan terbilang cukup terawat. Sisi kanan bagian dalam bangunan A merupakan ruang koleksi. Kondisi ruang koleksi tersebut terbilang kurang terawat. Beberapa bagian pada dinding ruang koleksi sudah mengelupas. Langit-langit ruangan terbuat dari susunan balok kayu dan dalam kondisi kurang terawat. Balok kayu mulai mengeropos pada beberapa bagian. Penerangan pada ruang koleksi bangunan A kurang memadai sehingga kurang mendukung pengunjung untuk menikmati koleksi yang terdapat di ruangan tersebut. Sebagian blok A yang terbakar masih tertutup untuk umum.
Pada bangunan B terdapat Cafe Bahari dan dalam kondisi cukup terawat. Lantai bangunan B depan Cafe Bahari dipasang keramik warna hitam dengan ukuran kira-kira 50x50 cm. Cat dinding pada bagian dalam bangunan B juga masih terawat (Foto 5). Ruang koleksi bangunan B dalam kondisi yang kurang baik. Lantai papan dari ruang koleksi memerlukan perbaikan. Selain itu cat dinding juga banyak yang mengelupas.
Pada bangunan C terdapat kantor pengelola Museum Bahari. Kondisi bagian dalam bangunan C dapat dibilang kurang terawat. Balok-balok kayu di langit langit lantai satu beberapa mulai keropos dimakan rayap. Cat dinding bagian dalam bangunan C sudah mengelupas. Sebagian blok C kemudian terbakar pada bulan Januari 2018.
Salah satu bagian dari Tembok Kota Batavia yang masih tersisa berada di depan Museum Bahari. Sisa Tembok Kota Batavia yang hanya membentang di bagian depan Museum Bahari ini masih terawat. Struktur ini dicat dengan warna putih. Kondisi cat dinding cukup terawat.
Pada Sisa Tembok Kota yang berada di depan Museum Bahari masih terdapat sebuah menara pengawas. Berdasarkan keterangan dari informan, menara tersebut dahulu digunakan sebagai tempat tentara untuk berjaga-jaga. Kondisi dari menara tersebut terbilang masih terawat. Menara dicat dengan warna putih.
Pada bagian atas dari Tembok Kota ini terdapat wallgang. Dahulu wallgang tersebut digunakan sebagai tempat tentara berjalan saat patroli. Wallgang tersebut terhubung ke Bastion Zeeburg yang berada di utara Museum Bahari.
Kerusakan
Kerusakan akibat kebakaran bulan Januari 2018 masih belum diperbaiki dan belum ada tindakan pengamanan sementara terhadap cuaca. Diperkirakan secara umum kerusakan-kerusakan minor sudah timbul dan belum diperbaiki.
Perubahan bentuk
Kompleks Bangunan Museum Bahari didirikan tahun 1652, tetapi diubah beberapa kali sampai tahun 1759. Angka tahun perbaikan, perluasan atau penambahan gudang dapat dilihat di atas beberapa pintu museum, misalnya tahun 1718, 1719, atau tahun 1771.
Tidak ada perubahan bentuk yang signifikan pada masa kini. Lantai bangunan sekarang menjadi keramik.


Lokasi
Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440